Selama puluhan tahun, beredar sebuah klaim yang terdengar sangat mengagumkan: Tembok Besar Cina merupakan satu-satunya struktur buatan manusia yang dapat dilihat dari luar angkasa, bahkan konon dapat terlihat dari Bulan dengan mata telanjang.
Klaim tersebut begitu populer hingga masuk ke buku pelajaran, artikel, dokumenter, dan berbagai konten populer di internet.
Namun, apakah benar demikian?
Jawabannya ternyata tidak sesederhana yang selama ini kita bayangkan.
Badan antariksa seperti NASA dan ESA telah menjelaskan bahwa Tembok Besar Cina memang dapat difoto dari orbit menggunakan kamera dengan lensa panjang atau instrumen tertentu. Namun, hal tersebut berbeda dengan kemampuan mata manusia untuk melihat tembok tersebut secara langsung tanpa bantuan alat optik.
Bahkan, astronaut Cina pertama, Yang Liwei, pernah mengatakan bahwa ia tidak dapat melihat Tembok Besar Cina ketika berada di luar angkasa.
Lantas, dari mana sebenarnya mitos tersebut berasal?
Mengapa Tembok Besar Cina Disebut Bisa Dilihat dari Luar Angkasa?
Tembok Besar Cina merupakan salah satu konstruksi manusia paling spektakuler dalam sejarah. Struktur ini membentang sangat panjang mengikuti pegunungan dan lanskap di wilayah utara Cina.
Panjang total sistem pertahanan yang dikenal sebagai Great Wall sangat besar, meskipun angka panjangnya berbeda tergantung bagian dan periode sejarah yang dihitung.
Karena ukurannya yang luar biasa, muncul anggapan bahwa struktur sepanjang itu pasti dapat dilihat dari luar angkasa.
Masalahnya, panjang bukan satu-satunya faktor yang menentukan apakah sebuah objek dapat terlihat dari orbit.
Lebar, warna, kontras terhadap lingkungan, pencahayaan, kondisi atmosfer, resolusi kamera, serta ketajaman penglihatan manusia semuanya berpengaruh.
NASA secara eksplisit menyebut bahwa Tembok Besar Cina umumnya tidak dapat dilihat dengan mata telanjang dari orbit rendah Bumi, dan jelas tidak dapat dilihat dari Bulan.
Dengan kata lain, pernyataan “Tembok Besar Cina adalah satu-satunya struktur manusia yang terlihat dari luar angkasa†merupakan mitos yang menyesatkan.
Kesaksian Astronaut Membantah Mitos Tersebut
Salah satu bukti paling menarik justru datang dari orang yang benar-benar pernah berada di orbit.
Pada tahun 2003, Yang Liwei, astronaut pertama Cina, melakukan penerbangan luar angkasa menggunakan pesawat Shenzhou 5.
Dalam sebuah wawancara, ia ditanya apakah dapat melihat Tembok Besar Cina dari luar angkasa.
Jawabannya sederhana: ia tidak melihatnya.
NASA kemudian menggunakan kesaksian tersebut sebagai salah satu contoh penting untuk menjelaskan mengapa mitos mengenai Tembok Besar Cina perlu diluruskan.
Yang menarik, pengalaman Yang Liwei bukan berarti Tembok Besar mustahil sama sekali dideteksi dari orbit.
Persoalannya adalah perbedaan antara:
-
melihat dengan mata telanjang;
-
melihat menggunakan kamera dengan lensa telefoto;
-
melihat menggunakan citra satelit beresolusi tinggi;
-
dan mendeteksi menggunakan radar.
Keempatnya merupakan hal yang berbeda.
Jadi, Apakah Tembok Besar Cina Pernah Terlihat dalam Foto dari Luar Angkasa?
Ya.
Inilah bagian yang sering menyebabkan kebingungan.
Pada 2004, astronaut NASA Leroy Chiao mengambil foto wilayah Cina dari International Space Station (ISS). Beberapa bagian Tembok Besar kemudian diidentifikasi dalam foto tersebut.
Namun, Chiao sendiri mengatakan bahwa ia tidak melihat tembok itu secara langsung dengan mata, dan bahkan tidak sepenuhnya yakin saat mengambil gambar bahwa objek yang ditangkap kameranya memang merupakan bagian dari Tembok Besar.
NASA kemudian menjelaskan bahwa foto tersebut dibuat menggunakan lensa 180 mm, sementara foto berikutnya menggunakan lensa 400 mm. Dengan bantuan lensa panjang, bagian tertentu dari tembok dapat dideteksi dalam citra.
Hal ini menjadi contoh penting:
Sebuah objek dapat terekam kamera tanpa berarti objek tersebut mudah terlihat oleh mata manusia.
Kamera dan mata memiliki kemampuan yang berbeda.
Mengapa Tembok yang Begitu Panjang Justru Sulit Dilihat?
Ini merupakan bagian paling menarik dari persoalan tersebut.
Secara intuitif, kita mungkin berpikir:
“Kalau panjangnya ribuan kilometer, seharusnya mudah terlihat.â€
Namun, masalah utama Tembok Besar bukan panjangnya, melainkan ukurannya secara visual dari kejauhan.
1. Temboknya Relatif Sempit
Dari permukaan tanah, Tembok Besar memang terlihat besar.
Tetapi ketika seseorang berada ratusan kilometer di atas permukaan Bumi, skala visualnya berubah drastis.
Lebar tembok yang hanya beberapa meter menjadi sangat kecil jika dibandingkan dengan luas wilayah yang terlihat dari orbit.
NASA mencatat bahwa bagian Tembok Besar pada beberapa wilayah memiliki tinggi sekitar 5–8 meter.
Bandingkan ukuran tersebut dengan bentang wilayah yang dapat terlihat dari orbit rendah.
Tembok tersebut akhirnya hanya menjadi garis yang sangat tipis.
2. Warna Tembok Menyatu dengan Lingkungan
Ini mungkin merupakan faktor terpenting.
Tembok Besar dibangun menggunakan berbagai material, termasuk batu, tanah, bata, dan material lokal yang tersedia pada wilayah tertentu.
Warna dan teksturnya sering kali mirip dengan lingkungan di sekitarnya.
NASA menjelaskan bahwa Tembok Besar sangat sulit dibedakan dalam foto astronaut karena material tembok memiliki warna dan tekstur yang mirip dengan tanah di sekelilingnya.
Jadi, persoalannya bukan hanya:
“Apakah tembok itu ada?â€
Tetapi:
“Apakah mata manusia dapat membedakan tembok tersebut dari lanskap di sekitarnya?â€
Jawabannya dalam kondisi normal adalah sangat sulit.
3. Mata Manusia Memiliki Batas Resolusi
Mata manusia bukan kamera superzoom.
Kemampuan kita untuk membedakan sebuah objek sangat dipengaruhi oleh ukuran sudut objek tersebut terhadap mata.
Semakin jauh objek, semakin kecil sudut visualnya.
Inilah alasan sebuah bangunan yang tampak besar dari dekat dapat menjadi hampir tidak terlihat ketika diamati dari jarak yang sangat jauh.
NASA menjelaskan bahwa foto astronaut dengan detail sangat tinggi pun dapat mencapai sekitar 6 meter per piksel, dan pada tingkat detail tersebut jalan lingkungan masih dapat terlihat dalam kondisi tertentu, sedangkan objek yang lebih kecil menjadi jauh lebih sulit dibedakan.
Karena itu, klaim bahwa manusia dapat melihat sebuah tembok selebar beberapa meter dari ratusan kilometer jauhnya harus dipahami dengan sangat hati-hati.
Bagaimana dengan Foto Tembok Besar dari Satelit?
Ini juga sering menimbulkan kesalahpahaman.
NASA memang memiliki citra Tembok Besar Cina dari satelit.
Salah satu contohnya berasal dari satelit Terra, yang menggunakan instrumen ASTER.
Dalam citra tertentu, Tembok Besar terlihat sebagai garis gelap yang melintasi lanskap. Namun, kondisi pencahayaan dan lingkungan sangat membantu proses pendeteksian tersebut.
NASA menjelaskan bahwa pada citra tertentu, sudut Matahari yang rendah dan lapisan salju tipis membantu menonjolkan bagian Tembok Besar.
Artinya, ketika kita melihat foto Tembok Besar dari satelit di internet, bukan berarti seorang astronaut dapat melihatnya dengan cara yang sama.
Citra satelit adalah hasil penginderaan menggunakan instrumen yang memiliki kemampuan berbeda dari mata manusia.
Bahkan Radar Dapat Mendeteksi Tembok Besar
Teknologi penginderaan jauh membuat kemampuan manusia untuk “melihat†Bumi menjadi jauh lebih luas.
NASA dan Jet Propulsion Laboratory pernah menggunakan Spaceborne Imaging Radar untuk mendeteksi Tembok Besar.
Menariknya, radar dapat mendeteksi struktur tersebut dengan relatif baik karena bentuk sisi tembok yang curam dan permukaannya memberikan karakteristik pantulan radar yang kuat.
Ini memberikan pelajaran penting:
“Terdeteksi dari luar angkasa†tidak selalu berarti “terlihat oleh mata manusia dari luar angkasa.â€
Dua istilah tersebut sering dicampuradukkan dalam artikel populer.
Bagaimana dengan Astronaut ESA?
Bukti lain datang dari astronaut Badan Antariksa Eropa (ESA), Thomas Pesquet.
Pada 2021, Pesquet memotret wilayah Tembok Besar dari ISS.
ISS berada pada ketinggian sekitar 400 kilometer ketika mengorbit Bumi. Untuk mengambil gambar tersebut, Pesquet menggunakan lensa dengan panjang fokus hingga 1.150 mm.
Namun, Pesquet memberikan penjelasan yang sangat menarik.
Ia menjelaskan bahwa Tembok Besar tidak dapat dilihat begitu saja melalui viewfinder kecil kamera. Ia harus menggunakan fitur geografis di permukaan Bumi untuk memperkirakan lokasi, kemudian mengarahkan kamera ke area yang diperkirakan.
Dengan kata lain, astronaut tersebut sudah mengetahui di mana harus mencari.
Ini sangat berbeda dengan klaim bahwa Tembok Besar terlihat jelas seperti garis besar yang langsung menarik perhatian astronaut.
Apakah Tembok Besar Bisa Dilihat dari Bulan?
Tidak.
Klaim ini bahkan lebih tidak masuk akal dibandingkan klaim mengenai orbit rendah Bumi.
Jarak rata-rata Bulan dari Bumi sekitar 384.400 kilometer.
Pada jarak tersebut, ukuran visual Tembok Besar menjadi sangat kecil.
NASA menyatakan dengan tegas bahwa Tembok Besar Cina tidak terlihat dari Bulan.
Astronaut Apollo juga memberikan pengalaman serupa.
NASA mengutip astronaut Apollo 12 Alan Bean, yang menjelaskan bahwa dari Bulan, yang terlihat adalah Bumi sebagai bola besar dengan warna dominan putih, biru, dan beberapa bagian hijau serta kuning.
Tidak ada struktur buatan manusia yang dapat terlihat pada skala tersebut dengan mata telanjang.
Jadi jika ada klaim bahwa astronaut Apollo dapat melihat Tembok Besar Cina dari permukaan Bulan, klaim tersebut tidak didukung oleh bukti ilmiah.
Lalu Apa yang Lebih Mudah Terlihat dari Orbit?
Ironisnya, beberapa bentuk aktivitas manusia justru lebih mudah dikenali dari orbit dibandingkan Tembok Besar.
NASA menyebut bahwa dari orbit rendah Bumi, astronaut dapat melihat berbagai tanda aktivitas manusia, termasuk kota, jalan raya besar, jembatan, bandara, bendungan, dan waduk.
Kota pada Malam Hari
Lampu kota merupakan salah satu contoh paling mudah.
Pada malam hari, cahaya buatan menciptakan kontras yang sangat tinggi terhadap permukaan Bumi yang gelap.
Karena itu, jaringan kota dapat terlihat jauh lebih jelas dibandingkan tembok batu yang warnanya menyatu dengan tanah.
NASA juga mencatat bahwa kota-kota pada malam hari termasuk salah satu tanda keberadaan manusia yang paling mudah diamati dari orbit.
Jalan Raya dan Infrastruktur Besar
Jalan raya besar juga dapat membentuk pola geometris yang relatif mudah dibedakan dari lanskap alami.
Demikian pula dengan bendungan dan waduk berukuran besar.
Bentuk geometris dan perbedaan warna permukaan air dapat menciptakan kontras yang lebih kuat dibandingkan Tembok Besar.
Jadi, Apa Kesimpulan Cek Faktanya?
Setelah melihat data NASA, kesaksian astronaut, serta bukti dari teknologi penginderaan jauh, klaim tersebut dapat dinilai sebagai MITOS jika yang dimaksud adalah Tembok Besar Cina dapat terlihat jelas dengan mata telanjang dari luar angkasa dan merupakan satu-satunya struktur buatan manusia yang demikian.
Faktanya jauh lebih menarik.
Tembok Besar Cina dapat dideteksi atau difoto dari orbit dengan bantuan kamera dan lensa tertentu. Dalam kondisi yang tepat, bagian-bagian tertentu memang dapat muncul dalam citra astronaut.
Namun, hal tersebut tidak sama dengan melihatnya secara jelas dengan mata telanjang.
NASA menyebut Tembok Besar umumnya tidak terlihat oleh mata tanpa bantuan dari orbit rendah Bumi dan sama sekali tidak terlihat dari Bulan.
Bahkan astronaut yang telah berada di orbit dan mengetahui wilayah tersebut mengakui bahwa tembok itu sangat sulit dilihat secara langsung.
Mengapa Mitos Ini Bisa Bertahan Begitu Lama?
Mitos tersebut kemungkinan bertahan karena terdengar masuk akal.
Temboknya sangat panjang.
Bangunannya sangat terkenal.
Lokasinya berada di area terbuka.
Dan manusia secara intuitif menganggap benda yang sangat panjang pasti mudah terlihat dari jauh.
Padahal dalam ilmu optik, ukuran fisik objek bukan satu-satunya faktor yang menentukan visibilitas.
Kontras, lebar, warna, pencahayaan, jarak, kondisi atmosfer, resolusi instrumen, dan kemampuan penglihatan semuanya berperan.
Bahkan penelitian ilmiah mengenai kemampuan melihat Tembok Besar dari orbit menunjukkan bahwa persoalan tersebut tidak sesederhana jawaban “ya†atau “tidakâ€. Ada perbedaan pendapat mengenai batas teoritis pendeteksian struktur linear, sementara kondisi lingkungan dapat sangat memengaruhi kemungkinan pengamatan.
Namun untuk klaim populer “astronaut dapat melihat Tembok Besar dengan mata telanjang dengan mudahâ€, bukti yang tersedia tidak mendukungnya.
Kesimpulan
Tembok Besar Cina bukan satu-satunya struktur buatan manusia yang terlihat dari luar angkasa, dan bukan pula struktur yang dapat dengan mudah dilihat dengan mata telanjang dari orbit.
NASA dan ESA menunjukkan bahwa bagian Tembok Besar memang dapat muncul dalam foto dari orbit, tetapi biasanya membutuhkan lensa panjang, pengetahuan lokasi, kondisi pencahayaan tertentu, serta bantuan teknologi pencitraan.
Sementara itu, dari Bulan, Tembok Besar tidak dapat dilihat oleh mata manusia.
Justru lampu kota pada malam hari, jaringan jalan raya, bandara, jembatan, bendungan, dan berbagai perubahan besar pada lanskap dapat menjadi tanda aktivitas manusia yang lebih mudah dikenali dari orbit rendah Bumi.
Jadi, jika Anda mendengar seseorang mengatakan “Tembok Besar Cina adalah satu-satunya benda buatan manusia yang bisa dilihat dari luar angkasaâ€, jawabannya adalah:
⌠Mitos.
Yang benar adalah: Tembok Besar dapat dideteksi dari luar angkasa dengan teknologi pencitraan tertentu, tetapi sangat sulit atau umumnya tidak terlihat oleh mata telanjang astronaut dari orbit. Dari Bulan, struktur tersebut tidak terlihat.
Dan justru di situlah menariknya sains: sesuatu yang tampak masuk akal belum tentu benar ketika diuji menggunakan bukti dan kemampuan optik manusia.
Sumber dan rujukan utama
Artikel ini menggunakan sumber primer dan institusi ilmiah, terutama NASA, NASA Earth Observatory/JSC, NASA Jet Propulsion Laboratory, dan European Space Agency (ESA). NASA secara khusus membahas mitos Tembok Besar, keterbatasan penglihatan manusia dari orbit, serta foto-foto Tembok Besar yang diambil astronaut.