INFORMASI SPONSOR

Sering Diabaikan, 5 Keluhan yang Bisa Berkaitan dengan Kekurangan Vitamin D

Diterbitkan: 02 September 2026, 05:52 | Penulis: Anita Hambali

Diperbarui: 03 September 2026, 12:58 | Editor: Tim Editorial

Sering Diabaikan, 5 Keluhan yang Bisa Berkaitan dengan Kekurangan Vitamin D

Vitamin D sering disebut sebagai "vitamin matahari" karena tubuh dapat memproduksinya ketika kulit terkena radiasi ultraviolet B dari sinar matahari. Namun, perannya tidak terbatas pada kesehatan tulang.

Vitamin D membantu tubuh menyerap kalsium dan juga berperan dalam fungsi otot serta berbagai proses biologis lainnya. Kekurangan vitamin D yang berat dapat mengganggu mineralisasi tulang dan menyebabkan osteomalasia pada orang dewasa, yang dapat disertai nyeri tulang dan kelemahan otot.

Masalahnya, keluhan yang muncul ketika kadar vitamin D rendah sering kali tidak khas. Seseorang mungkin merasa lelah, tubuh terasa lemah atau mengalami keluhan lain yang kemudian dianggap sebagai akibat kurang tidur, pekerjaan yang terlalu padat, stres, atau faktor gaya hidup.

Di sinilah pentingnya memahami perbedaannya: gejala tertentu dapat berkaitan dengan kadar vitamin D yang rendah, tetapi tidak berarti setiap orang yang mengalami gejala tersebut pasti mengalami kekurangan vitamin D.

Mengapa Kekurangan Vitamin D Tidak Selalu Mudah Dikenali?

Vitamin D diperoleh dari beberapa sumber, yaitu paparan sinar matahari, makanan, dan suplemen.

Menurut National Institutes of Health (NIH) Office of Dietary Supplements, kadar vitamin D dalam darah umumnya dinilai melalui pemeriksaan 25-hydroxyvitamin D atau 25(OH)D. National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine menyebut kadar 25(OH)D di bawah 30 nmol/L atau 12 ng/mL sebagai kondisi yang menempatkan seseorang pada risiko kekurangan, sedangkan kadar 50 nmol/L atau 20 ng/mL ke atas dianggap cukup bagi kebanyakan orang.

Namun, angka tersebut tidak boleh digunakan sebagai alat diagnosis mandiri.

Pedoman Endocrine Society yang diterbitkan pada 2024 menyatakan bahwa pada orang dewasa sehat, pemeriksaan 25(OH)D secara rutin tidak dianjurkan karena ambang kadar vitamin D yang memberikan manfaat kesehatan tertentu belum ditetapkan secara konsisten melalui uji klinis.

Dengan demikian, gejala sebaiknya dilihat bersama faktor risiko dan kondisi kesehatan secara keseluruhan.

1. Kelemahan Otot atau Nyeri yang Berulang

Salah satu masalah yang paling jelas berkaitan dengan kekurangan vitamin D berat adalah gangguan pada sistem muskuloskeletal.

Vitamin D membantu tubuh mempertahankan metabolisme kalsium dan kesehatan tulang. Ketika kekurangannya cukup berat dan berlangsung lama, seseorang dapat mengalami osteomalasia. Kondisi tersebut dapat menyebabkan nyeri tulang dan kelemahan otot.

Dalam kehidupan sehari-hari, kelemahan otot mungkin terasa sebagai:

  • tubuh lebih cepat lelah ketika melakukan aktivitas;
  • kesulitan melakukan aktivitas yang sebelumnya terasa ringan;
  • otot terasa lemah;
  • atau muncul keluhan nyeri pada tubuh.

Meski demikian, nyeri otot bukan tanda khusus kekurangan vitamin D.

Aktivitas fisik berlebihan, cedera, gangguan tidur, beberapa penyakit, efek obat, dan berbagai kondisi lain juga dapat menyebabkan nyeri atau kelemahan otot.

Karena itu, keluhan yang menetap sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai akibat kekurangan vitamin D.

2. Mudah Lelah Meskipun Tidur Cukup

Kelelahan merupakan salah satu keluhan yang paling sulit digunakan untuk mengenali kekurangan vitamin D karena penyebabnya sangat banyak.

Kurang tidur, stres, anemia, gangguan tiroid, infeksi, gangguan suasana hati, pola makan, serta berbagai kondisi medis dapat menimbulkan rasa lelah.

Namun, terdapat penelitian yang menunjukkan bahwa koreksi kekurangan vitamin D dapat memperbaiki kelelahan pada sebagian orang yang memang mengalami kadar vitamin D rendah.

Salah satu uji klinis acak terkontrol melibatkan 120 orang yang mengalami kelelahan dan kekurangan vitamin D. Peserta menerima vitamin D3 atau plasebo, dan setelah empat minggu kelompok vitamin D menunjukkan penurunan skor kelelahan yang lebih besar dibandingkan kelompok plasebo.

Temuan tersebut menarik, tetapi tidak berarti vitamin D merupakan solusi untuk semua kasus kelelahan.

Justru, hal tersebut menunjukkan mengapa penyebab kelelahan perlu dilihat secara menyeluruh.

Kapan rasa lelah perlu diperhatikan?

Rasa lelah layak mendapat perhatian medis apabila berlangsung lama, semakin berat, atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.

Terlebih jika kelelahan muncul bersama kelemahan otot, penurunan berat badan yang tidak direncanakan, demam, sesak napas, gangguan tidur berat, atau keluhan lain.

3. Perubahan Suasana Hati

Hubungan antara vitamin D dan kesehatan mental telah menjadi objek banyak penelitian. Beberapa penelitian menemukan hubungan antara kadar vitamin D dan gejala depresi, tetapi hasilnya tidak sepenuhnya konsisten.

Sebuah meta-analisis terhadap 41 uji klinis acak dengan lebih dari 53.000 peserta menemukan adanya penurunan gejala depresi pada kelompok yang mendapatkan vitamin D. Namun, peneliti juga melaporkan heterogenitas yang tinggi dan tingkat kepastian bukti yang dinilai sangat rendah.

Artinya, hasil tersebut belum cukup untuk menyatakan bahwa kekurangan vitamin D adalah penyebab utama depresi atau bahwa suplemen vitamin D dapat menggantikan pengobatan depresi.

Hal yang sama berlaku untuk seasonal affective disorder (SAD) atau gangguan afektif musiman.

National Institute of Mental Health (NIMH) menyebut vitamin D sebagai salah satu pilihan yang digunakan dalam penanganan SAD pola musim dingin, tetapi juga menjelaskan bahwa penelitian mengenai efektivitas vitamin D untuk SAD menghasilkan temuan yang beragam.

Karena itu, perubahan suasana hati yang menetap, kehilangan minat terhadap aktivitas, atau gejala depresi tidak sebaiknya ditangani hanya dengan mengonsumsi vitamin D.

4. Rambut Rontok yang Lebih Banyak dari Biasanya

Rambut rontok sering disebut sebagai salah satu tanda kekurangan vitamin D. Namun, klaim tersebut perlu diberi konteks.

Penelitian memang menemukan hubungan antara kadar vitamin D yang lebih rendah dan beberapa jenis alopecia atau kerontokan rambut.

Sebuah systematic review dan meta-analysis yang diterbitkan pada 2024 mencakup 23 penelitian dengan 3.374 pasien alopecia dan 7.296 kontrol sehat. Peneliti menemukan kadar 25(OH)D yang lebih rendah dan frekuensi kekurangan vitamin D yang lebih tinggi pada kelompok alopecia secara keseluruhan. Namun, hasil antarjenis alopecia berbeda dan heterogenitas sejumlah analisis cukup tinggi.

Dengan demikian, rambut rontok tidak dapat digunakan sebagai bukti bahwa seseorang kekurangan vitamin D.

Kerontokan rambut juga dapat disebabkan oleh faktor genetik, perubahan hormon, stres fisik atau psikologis, kekurangan zat besi, penyakit tertentu, efek obat, dan berbagai kondisi dermatologis.

Jika rambut tiba-tiba rontok dalam jumlah banyak atau muncul kebotakan yang tidak biasa, pemeriksaan untuk mencari penyebabnya lebih tepat daripada langsung mengonsumsi suplemen vitamin D.

5. Luka yang Sulit Sembuh

Hubungan antara vitamin D dan penyembuhan luka juga telah diteliti.

Namun, artikel kesehatan sering membuat klaim yang terlalu luas dengan menyebut luka sulit sembuh sebagai tanda langsung kekurangan vitamin D.

Bukti yang tersedia sebenarnya lebih terbatas.

Sebuah systematic review yang mencakup 10 penelitian dengan 2.359 peserta menemukan korelasi antara kadar 25(OH)D yang rendah dan beberapa jenis luka yang sulit sembuh, khususnya luka tekan, luka diabetik, dan luka vena. Namun, peneliti menegaskan bahwa belum diketahui apakah hubungan tersebut merupakan hubungan sebab-akibat atau sekadar korelasi.

Karena itu, luka yang lama sembuh tidak boleh langsung dianggap sebagai tanda kekurangan vitamin D.

Pada kondisi tertentu, luka yang sulit sembuh justru perlu dievaluasi untuk kemungkinan diabetes, infeksi, gangguan aliran darah, masalah nutrisi, tekanan berulang pada area luka, atau kondisi medis lainnya.

Siapa yang Lebih Berisiko Mengalami Kekurangan Vitamin D?

Kebutuhan dan status vitamin D dapat berbeda antara satu orang dan lainnya.

Beberapa faktor dapat mengurangi produksi atau ketersediaan vitamin D, antara lain jarang mendapatkan paparan matahari, usia lanjut, kulit yang lebih gelap, serta kondisi yang mengganggu penyerapan lemak. Obesitas juga dapat berkaitan dengan status vitamin D yang lebih rendah.

Tubuh memang dapat membuat vitamin D melalui paparan sinar matahari. Namun, jumlah yang dihasilkan tidak selalu sama karena dipengaruhi berbagai faktor seperti usia, warna kulit, kondisi atmosfer, dan jumlah paparan.

NIH juga mengingatkan bahwa radiasi ultraviolet dari matahari dapat meningkatkan risiko kanker kulit. Karena itu, seseorang tidak dianjurkan sengaja berjemur berlebihan hanya untuk mendapatkan vitamin D.

Berapa Kebutuhan Vitamin D Setiap Hari?

Menurut NIH, Recommended Dietary Allowance (RDA) vitamin D adalah:

KelompokKebutuhan per hari
Bayi 0–12 bulan400 IU
Anak 1–13 tahun600 IU
Remaja 14–18 tahun600 IU
Dewasa 19–70 tahun600 IU
Dewasa di atas 70 tahun800 IU

Untuk ibu hamil dan menyusui, RDA yang tercantum NIH adalah 600 IU per hari.

Vitamin D juga dapat diperoleh dari makanan. Ikan berlemak seperti salmon, tuna, dan makarel termasuk sumber alami yang baik. Di Amerika Serikat, sejumlah makanan seperti susu dan beberapa produk pangan lainnya juga diperkaya vitamin D.

Namun, kebutuhan seseorang dapat berbeda berdasarkan kondisi kesehatan. RDA tersebut bukan berarti semua orang dengan keluhan kesehatan harus mengonsumsi suplemen.

Apakah Perlu Minum Suplemen Vitamin D?

Tidak selalu.

Endocrine Society dalam pedoman 2024 menyarankan agar orang dewasa sehat tidak secara rutin mengonsumsi vitamin D dalam dosis di atas kebutuhan harian yang direkomendasikan tanpa indikasi tertentu. Pedoman tersebut juga menyarankan agar orang dewasa sehat tidak melakukan pemeriksaan 25(OH)D secara rutin.

Jika seseorang memang mengalami kekurangan vitamin D atau memiliki kondisi yang meningkatkan risikonya, dokter dapat menentukan apakah pemeriksaan dan suplementasi diperlukan.

Hal ini penting karena vitamin D juga dapat berlebihan.

NIH menjelaskan bahwa konsumsi vitamin D yang terlalu tinggi, terutama dari suplemen, dapat menyebabkan peningkatan kadar kalsium dalam darah. Kondisi tersebut dapat menimbulkan mual, muntah, kelemahan, kebingungan, rasa haus berlebihan, sering buang air kecil, batu ginjal, dan pada kondisi berat dapat menyebabkan masalah ginjal maupun gangguan irama jantung.

Jadi, Apa yang Harus Dilakukan Jika Mengalami Gejala-Gejala Ini?

Hal terpenting adalah jangan menjadikan satu gejala sebagai diagnosis.

Mudah lelah tidak otomatis berarti kekurangan vitamin D. Rambut rontok tidak otomatis menunjukkan vitamin D rendah. Luka yang sulit sembuh juga memiliki banyak kemungkinan penyebab.

Jika keluhan berlangsung lama, berulang, semakin berat, atau mengganggu aktivitas sehari-hari, konsultasikan dengan tenaga kesehatan. Dokter dapat menentukan apakah diperlukan pemeriksaan tertentu berdasarkan gejala, riwayat kesehatan, obat yang digunakan, pola makan, serta faktor risiko lainnya.

Pada orang yang memang memiliki indikasi pemeriksaan, kadar 25(OH)D dapat menjadi salah satu bagian dari evaluasi.

Kesimpulan

Kekurangan vitamin D dapat memengaruhi kesehatan tulang dan otot, terutama ketika kondisinya cukup berat. Selain itu, penelitian juga menemukan hubungan antara kadar vitamin D rendah dengan beberapa keluhan seperti kelelahan, gangguan suasana hati, jenis kerontokan rambut tertentu, dan beberapa jenis luka yang sulit sembuh.

Namun, kelima keluhan tersebut bukan tanda spesifik yang dapat digunakan untuk mendiagnosis kekurangan vitamin D.

Bukti mengenai kelemahan otot dan gangguan tulang pada defisiensi berat relatif jelas, sementara hubungan vitamin D dengan kelelahan, depresi, kerontokan rambut, dan penyembuhan luka masih memiliki tingkat kepastian yang berbeda-beda.

Karena itu, langkah terbaik bukan sekadar mengonsumsi suplemen setelah membaca daftar gejala, melainkan memperhatikan kondisi tubuh secara keseluruhan dan mencari bantuan medis apabila keluhan menetap atau mengganggu kehidupan sehari-hari.

Catatan: Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan diagnosis atau saran medis dari dokter maupun tenaga kesehatan.

Rekomendasi Sponsor
Tags: Vitamin D, kekurangan vitamin D, gejala kekurangan vitamin D, vitamin D rendah, kesehatan, nutrisi, vitamin, nyeri otot, mudah lelah, rambut rontok

Kolom Komentar

Belum ada komentar di artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan komentar berbasis fakta!